Sumbar perlu menyikapi secara dini rencana pembentukan organisasi negara pengekspor beras atau Organization Rice Exporter Country (OREC). Jika sempat terbentuk, OREC akan berpengaruh besar. Apalagi Indonesia sendiri sekarang masih menjadi pengimpor beras. Mau tak mau Pemprov Sumbar perlu berbenah untuk memperbaiki tatakelola perberasannya saat ini. Pengamat Ekonomi Pertanian Unand Prof Helmi mengatakan, Sumbar perlu melihat beras sebagai komoditi yang berbeda. Amerika saat ini berupaya menjadi produsen beras nomor wahid di dunia.
Walaupun beras bukan komoditi penting di sana, namun mereka melihat beras sebagai komoditi yang berpengaruh besar terhadap kesinambungan sebuah negara. ”Saya rasa, untuk menghindari itu, kita perlu terus meningkatkan produksi. Petani memang tidak bisa dipaksa untuk menanam padi, tapi insentif bagi petani beras adalah sebuah cara efektif untuk meningkatkan produksi,” ujarnya pada Padang Ekspres, kemarin. Tahun ini, Sumbar menargetkan produksi padi sebesar 2 juta ton gabah kering giling (GKG). Jumlah tersebut meningkat 3,5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Dati data yang ada sejak tahun 2003 hingga tahun 2007, Sumbar selalu mengalami surplus di atas 300 ribu ton setiap tahunnya. Jika tidak dijual ke luar daerah, kebutuhan Sumbar diperkirakan akan cukup. Dalam artian bisa berswadaya. Namun, jelas selama ini peranan untuk pencapaian itu tidak terlihat. Berangkat dari kenyataan ini, Helmi menilai kehadiran OREC mestinya mampu menaikkan posisi tawar Sumbar. Walaupun anggota OREC daerah yang menjadi pemasok beras, namun peluang Sumbar mendapat insentif untuk mendorong peningkatan produksi beras tadi kian besar.
Biarpun begitu, Helmi menilai, petani beras belum menyadari arti penting komoditi yang mereka tanam. Meski demikian, mempertahankan jaminan untuk petani adalah sebuah upaya untuk terus meningkatkan produksi padi. “Selain perlu strategi, dukungan pemerintah sangat menentukan keperhasilan program tersebut,” katanya. |