Pemadaman begilir bukanlah sesuatu yang aneh di negri ini, termasuk Sumbar, Frekuensinyaterkadang ibarat makan obat, tiga kali sehari. Bahkan ada yang lebih parah dari pada itu, sehari semalam. Lantas kenapa persoalan ini berulang satu tahun ? Apalagi Sumbar memilki banyak pembangkit tenaga listrik bekemampuan besar. Sebut saja PLTA Singkarak, Maninjau, Kota Panjang,dan PLTU Ombilin.
Agakknya ini jugalah yang menjadikan pertanyaan anggota kamar dagang dan industri (Kadin) Sumbar . Sebab, keberadaan listrik tak ubahnya seperti jantung untuk menggerakkan industri mereka. Kalau jantungnya sudah seperti sekarang, jelas memberikkan imbas negatif negatif bagi usaha yanng mereka jalankan.
"Kebijakkan PLN melakukan pemadaman bergilir. langsung menusuk jantung dunia usaha, " kata Ketua Kadin Sumbar Asnawi Bahar dalam diskusinya Kadin Sumbar dan PLN Sumbar di carano Room Padang Ekspres, sore kemaren (29/7). Diskusi ini, dimoderatori Wapemred.
Ucok, panggilan akrab Asnawi Bahar, bukan mengada ada. Saat ini di Sumbar sebanyak 98,3 persen usaha industri masih kategori usaha micro kecil menengah (UMKM). Artinya, dari segi kemampuan, jelas mereka tak bisa mengadakan listrik sendiri seperti membeli genset ketika pemadaman listrik. Hanya sebanyak 1,7 persen saja yang boleh dibilang sudah bertahan, rata-rata industri sawit.
jika begitu keberadaannya, ketergantungan terhadap pasokkan listrik dari PLN sangat penting. Sedikit saja terjadi persoalan, pastilah akan langsung menurunkan produktivitas usahanya.Ucok mencatat, produksi dunia usaha langsung menurun sampai 25 persen tiap jam pemadam listrik. "jadi hitung sendiri kerugiannya, "katanya Ucok.
Tak hanya produktivitas, kurang konsisten PLN melakukan pemadaman sesuai dengan jadwal yang ada, kian menambah runyam persoalan kelikstrikan. kendati PLN sudah berusaha mensosialisasikanya melalui mwdia cetak, namun semua itu bisa memberikkan kepastian. dalam pelaksanaanya kerap tak berkesesuaian dengan jadwal tersebut.
Wakil Ketua Kadin Sumbar Bidang Perdagangan dan Industri, Ramal Saleh mengakui belum ada kepastian pemadaman ini, Dijadwalkan seharusnya tak ada pemadam, nyatanya pemadaman tetap di lakukan."Tak ada kepastian ini jelas merugikan dunia usaha. Bisa-bisa Usaha berhenti operasionalnya,"Kata Ramal.
Realitas inilah yang di rasakan dunia usaha, Jika kondisinya berlanjut, bukan tak mungkin pelaku UMKN gulung tikar. peningkatan biaya operasional. tak diikuti dengan nilai jual produk mereka. Tak salah kiranya, banyak investor menarik kembali rencana mereka berinvestasi di Sumbar.
Faktor Cuaca
Menanggapi itu, Deputi Maneger Komunikasi PLN Sumbar Asril K mengatakan, pihaknya bukan berlepas tangan terhadap persoalan ini. Sejumlah upaya sudah dilakukan, termasuk membuat hujan buatan. Namun sejauh ini, upaya itu belum membuahkan hasil memuaskan.
"Kita mengetahui, sebanyak 48 persen pembangkit listrik di Sumtra bagian tengah (terutama Sumbar ) merupakan PLTA. Jadi kalau pasokkan air danau bermasalah, imbaskan langsung terasa. Memicu defisit. Apabila sekarang ini merupakan musim kemarau sampai September-oktober mendatang,"kata Asril.
Sekarang saja, Kata Manager Perencanaan PLN Sumbar Hardwiyanto,di Sumbar defisit sudah mencapai 130 MW. Kemampuan pasokkan PLN hanya 292,5 MW, sedangkan beban (kebutuhan)nya mencapai 429,9 MW. Kondisi ini diperkirakan akan tetap berlangsung sampai beberapa bulan kedepan.
|